Friday, March 1, 2013

Tentang Rasa


Dia adalah seorang pemain basket handal di sekolah tempat dia belajar. Tak jarang dia menjadi incaran para gadis. Namanya Ricky Armando, dia cowok berdarah campuran antara Indo-Belanda. Hidungnya benar-benar sempurna, memiliki warna mata biru yang menawan. Badan tegap tinggi, sesuai dengan profesi yang ditekuninya. Kulit putih dan kadang kemerahan ketika matahari mengenai permukaannya. Tapi, sampai tahun ketiga, dia belum pernah menggandeng pasangan, atau pacar.
“Rick, nanti kau datang ke acara ulangtahun Amel?” tanya Faris, yang kebetulan merupakan orang minang.
“Nggak tau gue, Ris. Kenapa memangnya?” Ricky memang sudah fasih berbahasa Indonesia.
“Kan Amel mengharapkan kau datang, Lae. Dia itu menyukaimu.” Ricky menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kemudian dia meringis sendiri.
“Sudah, aku capek. Aku duluan, Ris. Guys, gue duluan.” Ricky segera mengambil sepeda motornya yang berada di tempat parkir. Pada saat dia keluar dari gerbang sekolah, dia melihat sosok gadis yang sedang duduk sendiri di depan sebuah warung yang sudah tutup. Hari itu sudah cukup sore. dia menghampiri gadis itu.
“La? Sendirian?”
“Eh, Ricky. Iya, nih. Kakakku ban sepeda motornya bocor. Jadi dia sedikit terlambat.” Lola namanya, dia gadis yang hidupnya sederhana. Ricky cukup lama mengenal Lola. Karena Lola memang baik. Dia sering membantu Ricky ketika dia mengalami kesulitan belaajar di tahun-tahun pertama. Dan dari Lola lah, Ricky belajar tentang menghargai orang dan menghargai apa yang dia miiki.
“Aku antar kamu pulang aja. Udah mulai gelap. Kamu bilang sama kakak kamu, ya.”
“Tapi nanti aku ngrepotin, Rick.” Ricky menggeleng keras. Lola akhirnya menuruti. Selama perjalanan, mereka lebih bercerita tentang bertemunya mereka. Sebelum bersekolah di tempat yang sama, mereka berdua pernah bertemu di sebuah pagelaran seni. Mereka sama-sama menyukai bilik lukisan. Itu awal mereka bertemu. Tak tahunya, mereka menjadi teman satu sekolah. Sampai juga di depan rumah Lola yang sederhana. Tidak terlalu besar, tapi nyaman. Penuh pot-pot bunga yang dirawat rapi. Ada sebuah ayunan kecil yang terletak di samping kolam ikan kecil.
“Aku sampai lupa kapan terakhir kali ke sini, La.” Keduanya terkekeh kecil.
“Kamu sekarang jadi orang sibuk, Rick. Kamu nggak datang diacara ulangtahunnya Amel?”
“Kamu diundang?” Lola menggeleng.
“Kalau nggak ada kamu, aku nggak akan datang, La.” Lola hanya tersenyum tersipu. Dia nggak mau besar kepala, takut nanti dia akan terjatuh sendiri dan sakit. Lola ijin untukmasuk ke dalam rumah dan Ricky juga kembali ke rumahnya. Di perjalanan, Ricky tersenyum-senyum sendiri dan memacu sepeda motornya dengan gesit. Sampai di rumah, mamanya menyambutnya dengan cemas.
“Where are you? Mama telfonin kenapa nggak diangkat?”
“Calm down, Mom. Handphone aku di tas. Tadi nganter Lola dulu pulang.” Mamanya sudah tahu perihal Lola. Ricky tipe cowok yang lebih suka curhat dengan mamanya ketimbang dengan papanya. Karena sama sekali tidak nyambung. Dan mamanya bisa menangkap, anaknya itu tertarik dengan Lola. Lagipula, menurut beliau, Lola adalah gadis yang baik dan rajin, karena memang Ricky sudah memperkenalkan Lola padanya. Ricky memutuskan untuk segera mandi dan pergi makan malam. Papanya atau Daddynya sedang tidak berada di rumah karena urusan bisnis. Papanya merupakan seorang yang berpengaruh. Pekerjaannya yang membuatnya bisa mencukupi kebutuhan keliarganya, bahkan lebih. Mama Ricky sering menceritakan masa mudanya dengan papanya. Romantis.
“Ma, aku nggak mungkin bisa seperti kalian. Itu kan dulu. Sekarang jamannya sudah lebih modern.” Ricky hanya tinggal berdua dengan mamanya. Dia belum memiliki adik lagi. Padahal usia mamanya masih dibilang belum terlalu tua untuk memiliki anak lagi. Tapi Ricky menyadari ada yang janggal dari sikap mamanya. Mama mulai sering memperhatikan pola makan, pola tidur, dan lainnya. “Mom, are you pregnant?” Mamanya langsung terperanjat.
“How you know, Darl?”
“Feeling. Congrats.” Ricky beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri mamanya untuk memberikan pelukan. Tak tahu mengapa, mamanya menangis. Ya, menangis bahagia. “Oh,yes! Aku bakalan punya adik baru.” Seperti anak kecil yang senang mendapat mainan baru, ekspresi Ricky benar-benar senang. Selesai makan dan membereskan piring-piring, dia meminta mamanya untuk beristirahat. Sedangkan Ricky menuju halaman belakang dan meraih handphonenya. Dengan lincah jarinya menekan tombol-tombol.
Lola, i have goodthing. My mom is pregnant. I will have a little brother or sister. Are you happy?
Dia sering menulis sms menggunakan bahasa inggris hanya dengan Lola. Kemudian mendapatkan balasan.
Are you serious? Oh, i am so happy. Congrats, Rick. You will be a big brother. We must celebrate it.
Ricky membalas lagi.
It’s good idea. See you at school.
Kemudian Ricky memutuskan untuk tidur. Keesokan paginya, dia sangat ceria, lain dari biasanya. Sebelum berangkat dia mencium kening mamanya dan mengelus perutnya. Dia akan mempunyai seorang adik.  Sesampainya di sekolah, belum sempat dia meletakkan tas di bangkunya, ada seseorang menarik tangannya sehingga tubuhnya berbalik.
“Kenapa semalam kamu nggak datang, Rick? Aku kan sudah memberimu undangan.” Ternyata itu Amel. Yang semalam merayakan ulang tahun ke-17.
“Maaf, aku lelah, Mel.”
“Lelah? Lelah karena mengantar Lola, kan?”
“Kenapa dia ikut terlibat?”
“Karena memang begitu keadaannya. Kamu lebih memilih dia daripada aku. Rick, apa sih lebihnya Lola?” Ricky mengernyitkan dahinya. Bukan dia berpikir tapi menganggap pertanyaan Amel sangat kurang masuk akal.
“Sepertinya pembicaraan sudah cukup. it’s not connected with her. Don’t blame her.” Ricky mencoba meghindar, tapi tetap dicegah oleh Amel yang tiba-tiba menggamit lengannya dan terlihat seperti berpelukan. Sebelum disadari oleh orang-orang, Ricky melepaskan pegangan Amel.
“You act too much.” Ricky pergi. Ketika dia mendekati pintu keluar,
“Dia benar, Rick. Apa lebihku.” Ternyata Lola. Dia menyaksikan yang terjadi. Ricky terlihat menahan rasa bersalah, sedih, dan menyesal. Seharusnya dia tidak melihat semuanya.
“Ini bukan masalah lebih yang kamu punya, La.”
“Aku tidak cantik. Aku tidak kaya. Aku tidak gaul. Sama sekali tak bisa dibanggakan sebagai seorang wanita.” Ricky berjalan mendekati Lola yang bersandar ditembok sambil menatap langit-langit koridor. Dia berdiri dihadapan gadis yang sudah lama dekat dengannya itu.
“Bukan secara fisik. Tapi ini.” kata Ricky sambil memegang dadanya, “Hati dan rasa,” lanjutnya sambil tersenyum. Senyum khas yang sering dilihat oleh Lola. “Rasa tak bisa dipaksakan. Kalau nggak suka, lebih baik bilang nggak suka. Dan rasa itu sama sekali tak bisa ditutupi bagaimanapun caranya.”
Lola menghela nafas panjang. Dan mengubah posisi hadapnya menatap wajah Ricky yang ada di hadapannya lekat-lekat.
“Apa aku terlalu tinggi, membayangkan kalau kamu nanti jadi pacarku, Rick?” Sontan Ricky tertawa terkekeh mendengar pertanyaan lugu dari mulut Lola. Lola pun menyadari kebodohannya menanyakan hal demikian, ikut tertawa terkekeh. “Maaf, aku ceroboh, terlalu jujur.”
“Bukan ceroboh, La. Tapi kamu memang tidak bisa menutupi rasa itu.” Hening sejenak. “Itu bukan bayangan yang tinggi. Karena itu mungkin terjadi.” Ricky tersenyum penuh misteri. Membuat batin Lola bertanya-tanya. Sebenarnya, Ricky bisa saja mengucapkan saat itu juga, tapi ini belum saat yang tepat, menurutnya. Teng...teng.. Bel masuk telah berbunyi. Mereka berdua berpisah untuk memasuki kelas masing-masing. selama [elajaran berlangsung, keduanya sama sekali tidak bisa berkonsentrasi pada materi yang diajarkan. Mereka lebih sering senyum-senyum sendiri. tak terasa jam pulang tiba, karena ada rapat guru, murid pulang lebih awal. Lola bersiap mengemas buku-bukunya. Saat dia akan berdiri, Amel mendorong pundaknya sehingga terduduk lagi.
“Amel? Kenapa?”
“Jangan pura-pura bodoh, La. Jauhi Ricky!”
“Kenapa aku harus melakukannya?”
“Dia tidak cocok bersamamu! Sadar diri, dong!” Amel melakukan gertakan. Tiba-tiba, dari arah belakang,
“Dia tak harus menjauhiku. Kalaupun dia yang menjauh, aku yang mendekat. Ayo, La. Kita pulang.” Ricky meraih tangan Lola dan membawanya serta. Wajah amel merah padam. Malu, kesal, dan marah. Bagaimana tidak, kejadian itu dilihat anak-anak satu kelas.
“Rick, maksudnya kalau aku menjauh, kamu yang mendekat? Itu apa?” Tiba-tiba Ricky mengusap rambut Lola dengan pelan.
“Dasar, polos. Maksudnya, ya, aku yang mengejarmu. Mengejarmu sampai dapat.” Ricky dan Lola terkekeh lagi. Entah apa yang lucu, tapi yang jelas mereka tertawa bersama. Hari ini hari Sabtu. Biasanya anak muda pergi untuk nongkrong atau sekedar menghabiskan waktu di mall. Ricky punya rencana lain. Malam harinya, tepat pukul 19.00, dia menjemput Lola. Lola sudah mempersiapkan diri. Dengan kaos t-shirt pink yang tidak terlalu ketat. Celana jins panjang dan jaket.
“Waw, kamu kelihatan beda. Terlihat lebih ...”
‘Gaul?” Keduanya tertawa bersamaan. Ricky melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Selama perjalan Lola selalu menanyakan dimana tujuan mereka, namun Ricky enggan menjawabnya. Benar-benar membuat Lola penasaran. Akhirnya mereka tiba disuatu tempat yang asing bagi Lola. Tempatnya sedikit gelap dan sepi.
“Kita mau ngapain di sini, Rick? Gelap-gelapan begini.”
“Ssst, sekarang kamu tutup mata. Dan jangan berani-berani untuk mengintip. Aku yang akan menuntunmu berjalan. Kamu percaya aku, kan?”
“Kamu ngomongnya panjang banget, Rick. Iya, aku percaya.” Lola lalu menutup matanya. Mereka berdua jalan berdampingan. Lola memegang lengan Ricky agar tidak tersandung dan ricky menuntunnya dengan hati-hati. Memang agak sedikit licin mungkin sisa hujan kemarin. Langkah Ricky berhenti. Lola pun berhenti.
“Udah sampai?” tanya Lola yang masih menutup mata.
“Sebentar. Kamu diam dulu. Aku ke depan sebentar. Jangan buka mata.”
“Eh, awas jangan macam-macam.” Ricky berjalan ke depan. Meninggalkan Lola yang masih menutup matanya.
“Kamu dengar suaraku, La?”
“Iya, Rick. Tapi jauh.”
“Kamu bisa jalan kesini? Tapi , mata kamu harus tetap tertutup. Ikuti saja suaraku.” Lola menghela nafas. Dia mengambil langkah pertama. Dia berjalan menuju suara Ricky yang menyebutkan namanya berulang kali. Kadang samar. Kadang jelas. Dia berhenti sejenak, bukan menyerah. Dia mengambil nafas lagi dan mulai melangkah. Tap..tap..tap.. Lola berhenti. Dia merasakan di depannya ada hembusan kecil dan suara ...
“Lola...” Lola berhasil sampai. “Kamu boleh buka mata.” Dan benar. Keduanya saling berhadapan. Lalu Lola mengerjap-kerjapkan matanya yang masih gelap. Dan dia melihat pemandangan yang luar biasa. Lampu-lampu berkelip-kelip. Ada sebuah meja makan beserta dua buah kursi dan makanan.
“Ricky?”
“Iya? Ini buat kita. Kan mau ngerayain kabar gembira semalam. Oh,ya, kamu bisa sampai di depanku, bagaimana?”
“Merasakan. Aku tadi sempat mau menyerah. Tapi, aku nggak mau.”
“Kenapa?”
“Harus dijawab?” Keduanya terkekeh lagi.
“Lola, aku sayang sama kamu. Kamu mau, jadi pacar aku? Hmm...untuk saat ini pacar. Tapi untuk kehidupan kedepan, kamu mau menungguku untuk melamarmu?” Lola tiba-tiba menjitak kepala Ricky.
“Dodol. Kita masih kecil. Kok udah bahas melamar.”
“Kan rencana, Sayang. Ups. Kamu kan belum jawab, ya.” Ricky menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Jawabannya. Iya. Aku mau, Ricky jelek.” Lola melonjak merangkul leher Ricky karena dia lebih tinggi. Ricky mencium kening Lola dengan lembut. Kemudian mereka melanjutkan dengan makan malam. Kini mereka adalah sepasang kekasih. Dan disatukan oleh rasa yang sama. Inilah kekuatan rasa. J happi ending dong ^^


1/03/2013
nim - 

Thursday, February 28, 2013

Dua Yang Bebeda


Bukan berbeda secara fisik, tapi pemikiran. Itulah kami, serupa tapi tak sama. Aku Aurel Micha Singgih dan saudara kembarku Aulia Mirha Singgih, kami kembar identik. Hanya aku lebih tinggi 2 cm dari dia. Kami sama-sama sudah menginjak usia 20 tahun, usia yang cukup bisa berfikir secara dewasa. Tapi tidak dengan Irha, saudara kembarku ini amatlah manja.
Kadang aku merasa seperti anak tiri, karena Irha yang sering dimanjakan. Sedangkan aku harus berusaha sendiri untuk mendapatkan apa yang ku mau. It’s ok, aku yang lebih tua beberapa menit dari dia. Tapi apa harus berbeda seperti ini? Kami sama-sama berkuliah di salah satu Universitas Negeri ternama di kota Jakarta ini. Hanya kami berbeda jurusan. Aku lebih menikmati berada dijurusan seni dan sastra, karena aku suka hal yang berbau seni. Sedangkan Irha, dia lebih suka jurusan hukum, karena memang anak hukum terkenal dengan kemodisannya.
Bukan berarti aku suka serampangan, tapi aku lebih banyak melakukan aktivitas di luar daripada harus berlindung di bawah pohon karena takut hitam tersengat panas.
“Cha, aku minjem mobil dong. Bensin aku belum diisi sama pak Ujo.” Irha mengulirkan telapak tangannya. Dan seharusnya dia memanggilku kakak.
“Rha, bisa beli sendiri, kan. Pom bensin juga gak begitu jauh. Kasihan pak Ujo. Dia udah capek nganter mama ke mana-mana.” Mendengar jawabanku Irha bersungut-sungut.
“Ah, bilang aja pelit. Cuma dipinjam sebentar. Nanti kuganti bensinnya.”
“Bukannya kakak pelit, tapi kakak juga butuh mobil buat pergi ke toko buku.”
“Buku lagi, buku lagi. Bener-bener, deh, kutu buku!” Aku sama sekali tak suka dengan ekpresi wajah Irha. Meskipun ketika aku berkaca, akan serupa, tapi tidak seperti sekarang. Bibirnya ditekuk. Sepertinya mama mendengar keributan kecil ini.
“Icha, ngalah dong sama adek kamu. Kalian tukar mobil dulu kan gak masalah juga.” Mama terlalu memanjakan Irha. Aku mengambil kunci mobilku dari saku jinsku. Irha melonjak kegirangan dan memeluk mama. Aku tersenyum kecut.
“Makasih, Kak Icha. Nanti kubalikin. Tolong isiin bensinnya, ya. Dah, Ma!” Irha berlalu dari hadapanku dengan senangnya. Setelah beberapa menit,
“Terus aja mama bela Irha. Mau sampai kapan mama sama papa berlaku adil sama Icha!” Aku meninggalkan mama yang terbengong sendiri. Aku mengetik pesan kepada seorang temanku.
Bisa jemput nggak, Mel? Gue stuk di rumah.
Mellisa adalah salah satu kawan terbaik yang pernah aku jumpai. Dia selalu ada sewaktu aku membutuhkannya. Apalagi ketika aku merasakan ketidakadilan ini. Tring, satu pesan masuk.
Dengan senang hati,beb. Wait ya. Sabar :*
Aku bernafas lega. Aku juga gak mau niatku untuk ke toko buku terhalang. Selama menunggu Mellisa datang, aku berfikir tentang Irha. Dia sewaktu kecil sering merepotkanku. Selalu ingin dengan apa yang kupunya, padahal dia punya yang lebih baik. Dan terpaksa aku memberikan milikku. Aku selalu mengalah.
Jemputanku datang, aku hanya berpamitan ala kadarnya pada mama. Aku masih terlalu marah untuk berbaik hati. Di dalam mobil Mellisa, airmataku langsung mengucur. Dia menawari sehelai sapu tangan.
“Cha, lo yang sabar, ya. Nanti bakal indah kok pada waktunya. Percaya kan ama gue?” Aku menyeka airmataku dan mengangguk pelan.
“Makasih, Mell.” Akhirnya kami sampai juga disebuah toko buku yang sedang mengadakan SALE besar-besaran. Aku tak mau melewatkan kesempatan ini. Untung aku punya uang tabungan sendiri diluar uang bulanan yang diberikan kedua orangtuaku. Tentunya tidak sebesar dengan uang jatah Irha.
Saat memilih buku, tak sengaja aku menyentuh tangan seorang cowok yang ingin mengambil buku yang sama.
“Eh, sori. Kalau kamu mau ambil, ambil aja.” Dia mengalah, buku itu memang masih sisa satu saja. Dan aku sudah mengidamkannya lama sekali.
“Beneran gak papa? Ini limited loh.” Aku menanyakan kembali. Dia mengangguk mantap. Yes! Aku berseru dalam hati. Cowok ini mengalah untukku. Hebat, kan ya. Aku menuju meja kasir dengan riang. Aku mendapatkan buku idamanku dan memperoleh kenalan baru. Namanya Bintang.
Setelah perkenalan singkat itu, aku sering bertemu dengannya ditempat yang sama. Aku juga sudah bercerita banyak tentang diriku dan sekelilingku, terutama tentang saudara kembarku. Dia sedikit terkejut kalau aku memiliki saudara kembar.
“Kamu punya saudara kembar? Hebat. Seperti apa dia?”
“Hampir mirip denganku. Hanya saja, kami memiliki sifat yang berbeda.” Aku semakin dekat dengan Bintang. Aku menemukan yang namanya ‘bahagia’ diluar rumah. Karena di dalam rumah ini, aku sama sekali tidak bahagia. Kedua orangtuaku semakin memanjakan Irha.
“Cha, kamu kok sering keluar terus?” Mama membuka pembicaraan saat itu sedang makan malam. Aku lihat Irha akan menyahut, tapi aku mendahuluinya,
“Aku ada tugas buat sinopsis. Butuh buku. Jadi aku pergi ke toko buku.”
“Dasar kakak boros. Uangnya dipakai buat beli buku terus. Gak berguna, kan. Ya, kan, Ma?” Jawaban Irha membuat moodku hilang. Perut yang aslinya lapar mendadak kenyang.
“Kalian sama sekali gak pernah hargai Icha sedikitpun. Icha kenyang.” Kulihat Irha tersenyum riang. Seolah-olah aku melihat bayangan wajahku yang menyeringai, tapi itu bukan aku.
Yang kutakutkan selama ini benar terjadi, ketika aku memperkenalkan Bintang kepada kedua orangtuaku, Irha mulai merengek kepada mamaku serta papaku. Lalu mamaku mendekati Bintang dan meminta untuk berkenalan dengan Irha. Bintang yang tak tahu apa-apa mengikuti kata mamaku. Dia menjabat tangan Irha dan Irha sangat bahagia. Dia langsung mengapit lengan Bintang, di depanku. Bintang segera melepaskan tangan Irha dan berbalik padaku.
Lalu aku mengajak Bintang untuk keluar rumah. Dia menggenggam tanganku erat, aku menangis dilengannya. Dia mengusap rambutku lembut.
“Sayang, kamu tenang aja. Aku cuma buat kamu.” Bintang pamit pulang. Aku memasuki rumah,
“Cha, kenapa kok dia pulang? Gak boleh kenalan sama adekmu, ya?”
“Buat apa aku kenalin dia ke Irha, Ma? Biar Irha bisa pegang tangan Bintang lama-lama?” Aku menatap Irha dengan tatapan yang paling kejam yang pernah kulakukan.
“Kalian selalu memanjakan Irha. Apa yang kupunya, harus jadi milik dia. Ini soal perasaan, Ma, Pa. Hargai aku. Aku juga anak kalian. Aku gak berbeda dari Irha. Aku sama dia SAMA! Kami serupa, tapi kami BERBEDA SIFAT!!” Aku benar-benar menangis keras. Aku mengunci diri di kamar. Aku menghadap ke kaca dan memaki-maki diriku sendiri. Kenapa mereka membiarkanku hidup kalau aku haus menerima semua ini. Dan ini sudah keterlaluan. Aku mengemas semua bajuku dalam dua buah tas besar. Yang kutinggal hanya beberapa boneka. Lalu aku keluar kamar.
“Mau kemana kamu, Cha?” tanya papa sedikit cemas melihatku membawa dua buah tas besar.
“Peduli apa kalian? Aku matipun gak masalah. Masih ada Irha. Makasih udah ngerawat Icha sampai sekarang. Lebih baik Icha pergi. Dan Rha, jaga mama papa.” Irha membelalakan matanya, dia tampak kaget dengan keputusanku.
“Kak Icha, jangan pergi. Irha mohon.”
“Kenapa? Bukannya kamu bisa segala hal? Kamu udah dapatin semua yang kamu mau.”
“Aku gak bisa, Kak. Maafin Irha, maaf. Irha salah. Maafin aku, Kak.” Aku melihat dia menangis, seperti melihat diriku dipantulan kaca. “Irha janji, aku bakal berubah. Ma, Pa, tolong jangan biarin kak Icha pergi. Kak Icha selalu ngalah buat Irha, aku yang keterlaluan.”
“Icha, maafin Mama sama Papa, ya. Kamu juga anak kami. Mama minta maaf.” Orang yang kusayangi menangis di hadapanku. Aku melepaskan peganganku pada kedua tasku, aku merangkul mereka.
“Icha sayang sama kalian. Sayang banget.”
Aku Icha dan saudara kembarku, Irha, adalah kembar identik. Serupa. Tapi kami berbeda. Ya berbeda. Berbeda pilihan mengenai jalan hidup. Tapi kita sama. Kita sama, sama berjuang membahagiakan mama papa.

28-02-2013

Apa mimpiku ?


 Apa mimpiku? Pertanyaan yang selalu berputar diotakku. Pernah aku bermimpi memiliki segudang mainan, itu ketika aku berumur masih sangat kecil. Aku pengen kamarku penuh dengan boneka barbie. Mulukkah? Tidak, itu wajar bagi seorang anak kecil yang belum mengerti apapun tentang kehidupan yang sebenarnya. Sekarang aku kuliah, sudah semester tua. Tujuanku kuliah untuk mewujudkan mimpi atau hanya mencari gelar. Karena aku benar-benar tidak menikmati segala prosesnya. Terpaksa? Mungkin. Aku tidak bisa sebebas dulu. Bisa ke mana pun. Melakukan apapun. Sekarang penuh dengan batasan. Mungkin karena efek ‘disesatkan’ oleh seorang yang dulu kuanggap penting. Sudah. Ini terlanjur.
“Mon, gimana tugasmu?”
“Jangan tanya soal tugas plis. Aku sama sekali belum menyentuhnya. Otakku terlalu lelah.” Aku memang tipe pemikir, tapi jarang kulakukan. Ya, itu kesalahanku. Kulihat teman-teman sebayaku sudah berpenampilan lebih dewasa sesuai dengan usia mereka. Menjaga penampilan mereka seanggun mungkin dan menunjukkan mereka sudah berkuliah. Sedangkan aku? Hanya berkaos oblong diselimuti jaket, sepatu sport, celana jins, dan sebuah tas ransel. Sama sekali tak ada sisi wanita. Oke, aku malas berdandan karena itu amat sangat RIBET.
Aku suka duduk di bagian tengah, tidak di belakang, tidak di depan. Dan aku berusaha buat fokus ke depan, tapi pikiranku melayang-layang.
“Aku ngantuk nih. Laper lagi. Nanti ke kantin, yok.” Tanpa ragu aku mengiyakan ajakan temanku itu. Kami suka pergi makan bareng. Nggak hanya berdua. Aku berpikir, suasana di kantin itu lebih enak daripada di kelas. Dan kalau disuruh memilih, aku lebih suka di rumah daripada harus di kampus. Aku memang anak yang lebih suka menghabiskan waktu berjam-jam di depan laptop. Entah itu mendengarkan lagu, iseng, atau main game.
Saat di kantin, aku mengaduk-aduk nasi berkuah yang ku pesan tadi, sedangkan gelas es teh ku hanya tinggal setengah, maklum cuaca hari ini sangat panas. Aku lebih mati kelaparan daripada mati kehausan. Aku makan dengan amat malas, padahal nasi masih banyak.
“Mon, kamu kenapa, he? Kok akhir-akhir ini sering murung?” tanya Panda, nama yang unik memang, tapi itu benar-benar namanya. Dia salah satu sahabat yang setia menemaniku di kantin. Ya, kami suka jajan.
“Ha? Aku nggak papa. Cuma agak suntuk sama semuanya. Monoton. Kangen ama kehidupanku sebelum ini.”
“Ada apa dengan kehidupanmu dulu?” Aku membenarkan posisi dudukku untuk lebih tegak.
“Huft, dulu ... Ya berbeda dari sekarang. Aku bisa melakukan apa yang mau. Aku bisa menumpahkan seluruh bakatku. Sekarang, sama sekali nggak ada waktu untuk itu semua.”
“Hobi maksudmu?”
“Ya, begitulah. Aku dulu sangat mencintai basket, musik, dan ... menulis.” Aku tertunduk. Aku benar-benar rindu saat aku menulis. Sewaktu SD aku sudah membuat karyaku. Hanya bermodal buku bercorak mickey mouse kecil, aku menulis sebuah cerita. Aku masih ingat betul. Tapi buku itu hilang entah kemana. Padahal itu hasil pertamaku. Ketika menginjak SMP, aku membuat cerita sampai 7 buku tulis dan belum ada endingnya. Dan teman-temanku sudah membacanya dan selalu menantikan update ceritanya. Masih sama topiknya, cinta. Aku memang tergolong memiliki imajinasi yang terlalu banyak. Tapi susah untuk meluapkan dalam bentuk tulisan. Saat SMA, kemampuan ku menulis cukup membaik. Aku mengetahui bagaimana cara menulis yang benar. Sayangnya, tulisan-tulisanku tersimpan di sebuah komputer dan komputer itu sekarang telah rusak. Aku ingat, judul-judul karyaku diilhami dari judul lagu yang sedang nge-hits dimasa itu.
Kemudian, aku memiliki teman sebangku yang sama sepertiku. Memiliki imajinasi yang tinggi. Setelah membaca buku Harry Potter, imaji kami berdua meluncur. Kami mempunyai pemikiran sama. Dan kami membuat sebuah judul buku fiksi. Menulis secara bergantian, menyamakan alur cerita, ahh ... Lamunanku pecah ketika si Panda menggoyangkan pundakku.
“Malah ngelamun. Yok masuk lagi. Udah jamnya, nih.” Aku menghela nafas sangaaat panjaaang. Rasanya aku seperti disuruh berjalan di tepi tebing yang curam. Oh, Tuhan, aku lelah. Kuliah yang terakhir ini pun berlangsung sangat lama. Aku hanya memperhatikan dengan tatapan mata kosong. Antara mengerti dan tidak. Aku lebih memilih bermain handphone yang telah kubeli dengan uang tabunganku ini. Kubuka, ada satu pesan.
Sayang, aku kangen. Nanti pulang kuliah jam berapa? On ya :* ~
Aku tersenyum tipis. Dia yang memanggilku sayang adalah pacarku yang baru. Setelah aku bisa melupakan kenangan pahit dulu. Dia yang menyembuhkan. Masih berondong, tapi dia lebih bisa bersikap. Aku yang selalu bersikap seperti anak kecil.
Aku juga kangen sayang. Sebentar lagi pulang. Sebenernya aku malah pengen bolos. Haha :p. Lagi apa cinta? ~
Hapeku bergetar lagi,
Ih, bandel to. Kuliah yang rajin. Cepat lulus. Cepat kita menikah :* ~
Aku sungguh bahagia. Kalian tau? Hanya dia yang bisa menjadi semangat dalam hidupku. Entah kenapa, aku yakin kami benar-benar jodoh. Pertemuan singkat dan terlihat konyol. Aku kembali lagi berpikir. Aku kuliah untuk siapa, ya untuk membahagiakan orang yang menyayangiku. Papa, mama, kakak, teman, dan dia. Aku ingin mewujudkan mimpi-mimpiku. Kelak aku lulus, aku akan jadi orang sukses. Dengan atau tidak bekerja pada bidang yang kutekuni sekarang. Kuikuti kemana angin membawaku. Entah aku jadi pemusik, penulis, atau seorang arsitek. Ketiganya adalah mimpiku. Dan mimpi terbesarku adalah untuk bersama dia yang jauh di sana, terpisah oleh laut, berada di pulau berbeda.
 Itulah mimpiku J

Nb : sedikit dibuat-buat, tapi sebagian besar sama hahaha ^^ 

Wednesday, February 27, 2013

haruskah ?

berjalan tertatih ,,
lemah dan tak berdaya,
dan tanda itu masih sangat dan amat jauh ,,

pelan .. pelan ..
dan aku terjatuh ,,
kugapai apapun yang ada supaya ku berdiri lagi,
gontai ,,

haus, lapar, lelah ...
tanda itu masih jauh juga ..
aku terduduk...
dan hampir aku roboh ,,
aku coba menegakkan kembali badanku..

tapi kaki-kakiku tak mampu lagi menopang tubuhku ..
terdiam sejenak .
aku berfikir keras ..
tanda itu masih jauh,, yaa, jauh sekali ..

masih ada kesempatanku untuk berbalik . tapi sama jauh ..
haruskah aku menyerah?
atau tetap berjalan menuju tanda itu?
haruskah ?

Mencoba Kembali Lagi

apa cita-citaku?                                                                                        
pertanyaan yang sering melintas diotakku.
aku ingin jadi arsitek, itu kataku sewaktu aku kecil
tapi setelah ku jalani hari-hari sebagai seorang mahasiswi arsitektur, ternyata gak segampang ketika aku mengucapkan sewaktu kecil..

sisi lain
aku suka menulis, kadang terlintas aku ingin masuk sastra. tapi nanti mau jadi apa
menulis bukan profesi baik, kata orangtua. hanya sambilan 

ya, aku mengerti
tapi tak bisa disangkal, aku lebih menikmati buku cerita daripada buku pelajaran
aku lebih menikmari menulis daripada menggambar
benar-benar perlawanan yang sengit

aku gak mau mengubur asaku
aku ingin jadi penulis
aku ingin mempunyai beberapa judul buku sendiri, yang ada fotoku di sana
terlambatkah? ...

Saturday, July 28, 2012

Perjuangan Yang Tidak Sia-Sia

bukan dimaksudkan untuk curhat
(tapi emang curhat, muahahaha)
28 Juli 2012
Tadi siang aku hunting yang namanya poster
masuk ke toko-toko yang berhubungan dengan poster
tapi yang lagi populer itu NARUTO, CAR
mau cari One Piece aja susahnya minta ampun

nah,
setelah masuk ke beberapa toko
akhirnya dapat pencerahan

dapat juga yang namanya poster One Piece
meskipun ga lengkap
tapi paling ga, ga sia-sia muter2 disiang yang panas

dan alhasil
dompetku karam >.<

Thursday, July 26, 2012

OnePiece lover

Awalnya emang aku ngga begitu paham sama jalan cerita
setelah aku ngedenger pacar cerita, aku mulai tertarik
aku baca satu per satu dari awal sampai yang baru

dan alhasil
aku mulai mencintai komik ini
dan mulai donlot satu2 filmnya

mhihihi
Terimakasi buat pacarku sayang
karnamu, aku jadi suka OnePiece


Monkey D.Luffy